Kejadiannya dimulai ketika ayahku menjabat sebagai kepala desa. Well, keputusan tersebut sebenarnya tidak murni dari keinginan ayahku. Ayah didesak oleh perwakilan penduduk-penduduk desa agar ayahku mau mencalonkkan diri. Dugaanku, pertama, hanya ada satu calon dan tidak ada lagi yang mencalonkan, kedua, banyak persepsi mengenai calon yang satu ini, dan persepsi-persepsi itu sangat negatif.
Singkat cerita, ayahku terpilih sebagai kepala desa. Bagi penduduk desa, hari-hari menentramkan akan segera terjadi. Bagiku, hari-hari yang semakin bermasalah akan terjadi. Dan ya, dugaan kami benar. Tapi aku tidak akan membahas dugaan mereka, aku akan membahas dugaanku.
Ayahku yang semakin sibuk sehingga tidak bisa lagi membimbing dan menemaniku, seorang anak bungsu berusia 13 tahun. Pada akhirnya, semua harus aku lakukan sendiri. Berangkat les Primagama sendiri, berangkat les Purwacaraka sendiri. Yang paling menyebalkan, AKU SENDIRIAN DALAM MENGEJAR APA YANG AKU INGINKAN. Saat aku bilang aku ingin buku, aku harus membelinya sendiri. Bahkan saat aku sedang makan di luar, aku sedang makan sendiri. Segalanya aku lakukan sendiri. Awalnya nampak menyebalkan, namuun pada akhirnya aku terbiasa. Aku terbiasa melakukan hal-hal sendiri, belajar sendiri, mencari tahu sendiri, semuanya sendiri. Mungkin kalian bertanya "bagaimana dengan kakakmu?". Well, aku bisa bilang dia sedang sibuk dengan masa remaja-menuju-dewasa-nya.
Hobiku yang melakukan apapun dengan sendiri ini semakin membentuk diriku. Aku tidak perlu teman untuk melakukan hal yang kuinginkan, tidak perlu orang tua untuk membantuku, tidak perlu kekasih untuk menemaniku. Namun aku merasakan titik balik di sini. Yang sebenarnya aku butuhkan bukanlah sesorang yang menemaniku, tetapi sesorang yang mendukungku. Seseorang yang memberiku masukan, kriitikan, bukan hujatan ataupun justru memerintahkan apa yang harus aku lakukan. Let me tell you, "Don't tell me what to do! Just tell me what should I know. Then, I'LL INISIATE.". Aku sangat tidak menyukai seseorang memerintahku untuk hal yang tidak aku pahami.
Saya hanya membutuhkan seseorang yang mendukung saya, dengan pengetahuan, dengan pendapat, spekulasi, bahkan uluran tangan jika perlu.